Jumat, 11 Desember 2015

Festival Film Smanik 2015

Festival Film Smanik, atau lebih lengkapnya silakan buka di sini, pada tahun penyelenggaraan kedua 2015 ini, berhasil diikuti total 30 film lebih. Tetapi film yang tanya pada Cinemanik 2015 hanya 6 film terbaik. Diantaranya adalah
- Sayap Garuda
- Gak Tau Aach/GTA (Yusril Fahreza)
- Friends (Savira Kusuma Dewi)
- Us (Eka Dyah Rachmawati)
- Garis Putus-Putus (Miftah Adhi Yuwono)
- Syair (Satrio Nurhanudin Wibowo)
Saya masuk dalam kepanitiaan FFS 2015 ini karena saya adalah ketua bidang acara Jourasik 2015 dimana Penanggung Jawab FFS 2015 berada dibawah bidang acara, tetapi saya juga masuk salah satu tim produksi film, yaitu Garis Putus-Putus. Tetapi jujur, saya akui berbagai penilaian dalam FFS 2015 sudah sangat fair dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Saya akan cerita dari segi panitia ya. Dalam kepanitiaan Jourasik 2015 saya adalah ketua bidang acara, yang mengurusi seleuruh rangkaian acara Jourasik 2015. Dibawah saya ada seksi kegiatan internal, ada 4 orang disana. Tiap orang merupakan PJ kegiatan yang berbeda. Dan salah satunya adalah FFS 2015 itu.
PJ FFS 2015 adalah Saskia Lia Miratul'ifa (Sasa). Dia adalah orang yang sangat dipenuhi dengan semangat positif. Seksi Internal lainya ada Dinda, Ajik dan Didik. Meskipun mereka punya tanggung jawab kegiatan sendiri, tapi wajib hukumnya membantu sesama kegiatan internal lainnya.
Dalan FFS 2015 ini awalnya dari 30an film kita (panitia) mengkualifikasi dari kriteria dan peraturan yang sudah ditentukan. Yang tidak sesuai langsung kita coret. Kualifikasi ini kita lakukan pada hal-hal krusial, seperti durasi waktu, penyensoran, pengerjaan dan hal hal yang 'sak lek' lainnya. Setelah terseleksi menjadi 20an film, kita menyeleksi lagi dari segi kualitas gambar dan suara. Biasanya dewan juri final enggan menerima film yang kualitas gambar dan suaranya tidak bagus, misalnya gambar pecah dan suara terlalu pelan atau tidak stabil. Akhirnya, kita menyeleksi lagi dengan segala pertimbangan. Akhirnya kami dapatkan 10 film terbaik yang akan dibawa ke meja penilaian Juri. 10 Film yang lolos saat itu selain 6 film diatas ada: Saklitinov, 10.00 am, Under Pressure sama satu lagi film ala-ala indovidgram yang saya lupa namanya wkwk
Jurinya adalah Pak Agus Priyo (Pemimbing Film Pendek FLS2N 2015 hingga juara 2 Pronsi Jateng), Pak Malik Ridwan (Guru Antropologi dan Sosiologi), dan Ibu Sri Sujati (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia). Hanya mereka yang berhak menentukan diantara 10 film itu, film mana saja yang layak tayang di cinemanik. Kami dari panitia kali ini benar-benar tidak ikut campur. Dan hasilnya adalah 6 film diawal tadi. Selain itu, mereka juga yang menentukan penghargaan FFS 2015. Hasilnya adalah:
-Film terbaik: Syair
-Ide Certa terbaik: Garis Putus-Putus
-Pemeran Pria terbaik: Garindra Yogiswara
-Pemeran Wanita terbaik: Malyda Savira
Naaah disini saya akan menambahkan beberapa kategori terbaik tambahan versi saya, sekali lagi, versi saya, berdasarkan film-film finalis FFS 2015 sesuasi kategori-kategori dalam FFI
-Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Naufal Nabila (Garis Putus-Putus)
-Pemeran Pendukung Wanita Terbaik: Suci (Friends)
-Pengarah Artistik Terbaik: Syair
-Pengarah Suara Terbaik: Gak Tau Aach
-Pengarah Musik Terbaik: Friends
-Pengarah Kamera Terbaik: Syair
-Pengarah Kostum/Rambut Terbaik: Syair
-Penyuntingan Gambar Terbaik: Garis Putus-Putus
-Efek Khusus Terbaik: Sayap Garudak
Hehehe itu semua menurut pengamatan saya saja kok. Just for fun sharing!

Rabu, 02 Desember 2015

Dibalik Garis-Garis Tuhan bagian Akhir

Setelah hari kelima, ternyata tidak semua urusan pengambilan gambar selesai. Setelah saya setel hasil gambarnya di PC, beberapa ada yang suaranya tidak masuk. Kebanyakan karena suara terpaan angin atau suara jalan raya yang ramai dan menelan suara para pemeran. Lagi-lagi saya benar-benar stres. Frustasi. Malam itu saya langsung memberikan berita ini kepada para cast. Setelah berkomunikasi, akhirnya para cast mau untuk recording suara untuk pengganti suara asli video.

Setelah mencari waktu, akhirnya hari senin, setelah UTS hari pertama saya bersama Garindra dan Malyda melakukan recording. Karena memang scene mereka yang suaranya sangat buruk dan berisik. Alhamdulillah lancar dan tidak cukup disulitkan keadaan.

Akhirnya, mulai malam itu, tiap malam saya mengedit semuanya menjadi film. Saya hanya menggunakan corel videostudio X2 karena Laptop saya tidak akan kuat untuk aplikasi lainya yang lebih canggih atau lebih baru.

Setelah itu, kami merilis video trailernya di kelas dan Alhamdulillah, apresiasi dari teman-teman sangat diluar dugaan. Bahkan beberapa tim sampai menangis karena benar-benar tidak menyangka akan seramai itu saat trailernya kami putar. Setelah itu kami membuka pemutaran trailernya untuk umum dan lagi-lagi kami tidak menyangka bahwa banyak yang akan penasaran dengan film GGT ini.

Selang beberapa hari, saya menayangkan film itu di kelas dan alhamdulillah apresiasi dari teman-teman juga luar biasa. Saya sangat terharu dengan hal ini karena walaupun tidak sempurna, paling tidak, tidak mengecewakan teman-tenan. Saya juga nengucapkan terimakasih kepada tim yang telah berjuang sekuat tenaga mati-matian dan saya tau itu. Early sang Storybuilder, Garindra-Malyda, maincast yang aktingnya sangat luar biasa, juga para pemeran lain yang merangkap menjadi kru juga, hehe, ada Adinda, Lia, Miftah, Degrita, dan Ridhwan.

Pada saat pengumuman film yang tayang di Cinemanik 2014, hasilnya sangat menngejutkan karena film kami tidak tayang. Tetapi, ternyata film kami justru tayang di puncak acara HUT SMA N 1 Kendal ke-53 2014. Kenapa? Karena film kami menjadi Film Pendek Terbaik, Festival Film Smanik 2014! Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, orang tua, tim dan teman-teman semuanya.

Sebelum memulai proyek untuk Festival Film Smanik 2015, saya dan Miftah mengedit ulang film GGT dalam versi extendednya yang durasinya menjadi 20 menit dari versi aslinya sekitar 12 menit. . Lalu, kami merilisnya kembali dan mengunggahnya ke Youtube untuk membangunkan kenangan kisah Rudi dan Anna dalam GGT karena...... Yes! Dalam FFS 2015 ini kami membuat sekuel dari Garis-Garis Tuhan, Garis Putus-Putus.

Dibalik Garis-Garis Tuhan bagian 4

Shooting hari keempat masih kami lakukan pada jam pulang sekolah. Resikonya, ya pulang larut lagi. Setting pertama adalah kota kendal, tepatnya di kompleks pertokoan sepanjang jalan Soekarno-Hatta. Saya kira itu tempat yang video-genic dan klasik. Setelah itu, lanjut ke set di RSUD Soewondo. Masalah yang saya hadapi saat itu adalah baterai kamera yang habis. Akhirnya sambil menunggu baterai kamera DSLR full, saya menggunakan kamera cadangan PowerShoot Canon.

Kami selesaikan shooting di rumah sakit secepat mungkin. Karena setelah ini kami masih ada shooting di set bagian dalam rumah Anna dan Varissa yang mengambil lokasi rumah Miftah Adhi, pemeran Heri. Disini masalah kembali datang. Padahal sudah sekitar jam set9 malam, Lia yang harus melakukan adegan Varissa menangis tidak bisa melakukan perannya dengan maksimal karena tidak berhasil menangis.

Usaha-usaha untuk mood-building saya lakukan bersama tim lainnya agar Lia benar-benar menangis dan adegan ini terlihat nyata. Mulai dari flashback moment, lalu sharing cerita soal orang tua, tetapi justru anggota tim lain yang menangis pada saat itu. Saya juga bisa merasakan. Membicarakan tentang orang tua sementara saat itu sudah cukup malam dan kami berada cukup jauh dari orang tua. Dan perlahan, Varissa menangis. Alhamdulillah paling tidak ada rekaman beberapa detik untuk scene ini.

Setelah dari rumah Miftah, ternyata kita masih harus shooting 1 scene lagi di Masjid Agung. Scene ini antara Rudi dan Varissa. Baterai kamera DSLR yang belum full dan sudah saya gunakan di rumah Miftah tadi akhirnya habis saat di Masjid Agung. Alhasil, saya kembali mengambil gambar dengan kamera cadangan. Sekitar pukul 9 kami pulang dan bisa beristirahat di rumah.

Di hari kelima, hari kamis, hari terakhir shooting, scene yang tersisa hanyalah scene di sekolah. Lagi-lagi saya dibuat takjub oleh Garindra dan Malyda yang begitu profesional sehingga sekitar 3 scene kami merampungkannya dengan waktu yang cukup singkat. Semua pengambilan gambar hari itu kami lakukan saat istirahat sehingga kami pulang normal hari itu.

Selasa, 01 Desember 2015

Dibalik Garis-Garis Tuhan bagian 3

Hari shooting selanjutnya hanya tersisa hari-hari sekolah. Apabila sesuai target, shooting akan selesai Selasa. Tapi setelah ada kejadian di hari pertama, saya pikir akan banyak hal yang berubah. Tapi saat itu saya berpikir, Wallahua'lam...

Saya sudah cukup stress dengan padatnya jadwal les para tim yang satu sama lainnya tidak bersamaan. Hari kedua memulai shooting jam 3 sepulang sekolah. Setting saat itu jembatan kali kendal tepat di tengah kota kendal. Sangat panas dan ramai karena dipinggir pantura. Saat itu saya hanya bersama Malyda dan Lia untuk scene Anna dan Varissa. Sekitar satu setengah jam lalu kami kumpul di Kos Ardhia untuk menyiapkan scene koskosan yang lebih baik.

Sholat berjamaah selalu menemani kami dan doa setelahnya menjadi penguat kami. Dan saya yakin, Lia juga memanjatkan doa yang sama kepada tuhannya. Film ini harus selesai! Lalu kami melakukan scene malam di koskosan dengan segala equipment yang benar-benar terbatas. Sekitar pukul 8 selesai dan kita harus pindah ke rumah Lia untuk scene rumah Rudi.

Terbayang setelah selesai set di kosan iming-iming seharusnya pulang dan istirahat itu saya dan tim lawan. Set di rumah Lia berlangsung lancar tanpa ada hambatan yang cukup menyulitkan. Sekitar jam 10 kami pulang mengakhiri hari kedua shooting GGT.

Hari ketiga shoot hanya kami lakukan untuk adegan dengan setting di sekolah karena pulang sekolah beberapa tim banyak yang ada jadwal les. Terpaksa, target 3 hari terulur.

Dibalik Garis-Garis Tuhan bagian 2

Setelah semua urusan pemeranan selesai, termasuk pemeran pendukung dan cameo, maka yang dipersiapkan selanjutnya adalah schedule karena waktu kita sangat amat terbatas. Hari Sabtu saya mengirim naskah ke para pemain, sedangkan senin lusa sudah dilaksanakan UTS 1. Tentu saya tidak ingin membebani tim. Rencana awal, shooting hanya akan memakan waktu 3 hari. Ya, 3 hari. Waktu yang sangat fantastis untuk filmi seperti yang saya ekspektasikan tapi saya yakin itu akan cukup. Maka hari minggu adalah hari pertama pengambilan gambar.

Demi apapun film ini dibuat tanpa survei lapangan pada lokasi2 yang akan menjadi setting film ini. Padahal salah satu hal yang ingin saya lakukan melalui film ini adalah memanjakan mata penonton dengan view-view indah nan tak terduga dari kabupaten kendal tercinta. Dalam naskahpun, saya memasukkan begitu banyak setting. Tetapi, karena saat itu sudah sangat mepet dengan deadline, jadwal tetap tidak bisa berubah. Saya mengumumkan bahwa shooting day1 akan dilaksanakan di kaliwungu dan dilanjutkan di Rumah Kos Early, pengarang ide cerita.

Akan ada scene berlatar kampung halaman Anna dan Rudi yang dalam cerita memang berumah di kaliwungu. Meetingpoint kami di rumah Malyda. Setelah semua tim yang dijadwalkan datang, kami melakukan reading sebentar dan harapan saya mulai terbangun kemistri Anna dan Rudi pada Malyda dan Garindra. Jujur, saat itu saya benar kagum pada mereka karena character-building mereka sangat baik dan memakan waktu yang sekejap. Seakan saya sedang menghadapi Anna dan Rudi dalam bentuk nyata. Walaupun, saat melakukan take scene untuk pertama kalinya, saya melakukan hampir puluhan kali retake karena mereka berulang kali tertawa saat beradegan.

Setelah selesai scene dengan set di rumah Malyda, kami bergerak ke daerah persawahan Sawah Jati. Ini salah satu yang saya suka ketika Anna dan Rudi menaiki motor melintasi sawah-sawah. Ya, walaupun sebenarnya saya kasihan kepada Garindra karena scene ini harus diulang sekitar 4kali dan artinya ia juga harus berputar balik selama 4kali hehehe.

Selesai scene di kaliwungu sekitar pukul 3 siang dan kami menuju meeting point selanjutnya di Kos Early di Kendal. Disana, hampir semua cast datang. Di kaliwungu tadinya kami hanya berempat, saya bersama Garindra, Malyda dan Lia. Lalu di Kendal ada Adinda, Miftah, Early dan Degrita. Sebenarnya kami akan melakukan scene di kos tetapi lighting kami sangat terbatas saat itu dan kos sangat gelap. Awalnya saya tetap memaksa melakukan pengambilan gambar sampai scene yang ditargetkan selesai. Tetapi, take hingga sekitar pukul 8 semuanya sia-sia karena tidak ada satupun yang layak tayang.

Malam itu juga saya bersama semua tim memutar otak. Yang kami perlukan adalah set baru untuk setting kos-kosan. Seakan baru menerima hidayah, ada yan menyebut nama Ardhia yang punya sebuah kos-kosan, dan dia salah satu cast pula dalam film ini. Detik itu juga, saya menghubungi Ardhia untuk menjadikan kosnya sebagai salah satu set film ini. Ternyata clear, walaupun besok dia ada latihan paskibra dan tidak bisa menemani. Its okay. Yang terpenting malam ini saya masih bisa tidur walaupun tidak nyenyak karena besok pasti akan ada lebih banyak cobaan.

Dibalik Garis-Garis Tuhan bagian 1

Selamat menjelang tengah malam:)

Sebelum mulai mereview film2 nasional, saya akan berbagi sedikit pengalaman. Yang pasti pengalaman ini sangat kecil dan tidak ada artinya bila diartikan sebagai arti dari "pengalaman" secara harfiah yang dikenal masyarakat. Hehehe. Saya akan bercerita mengenai pengalaman dalam pembuatan Film Pendek Garis-Garis Tuhan (GGT) pada tahun 2014 yang memakan waktu produksi sangat singkat dan terbatas. Namun Alhamdulillah, berhasil membawa predikat Film Terbaik pada FFS (Festival Film Smanik 2014).

FFS adalah lomba tahunan sekolah yang mempertandingkan film pendek karya tiap kelas. Meskipun berlingkup tingkat sekolah, tapi jangan salah sangka, film-film yang diproduksi sangat luar biasa semuanya. Film-film yang memiliki daya tarik menurut panitia akan ditayangkan dalam bioskop mini Cinemanik (Cinema of Smanik). Lalu di akhir FFS, akan diadakan penganugerahan kepada Film-Film tersebut. Untuk FFS 2014, ada kategori Film Terbaik, Pesan Cerita Terbaik, dan kategori khusus Unsur Pendidikan Terbaik.

Saat itu, juklak lomba film dibagikan dan saya benar2 excited. Bayangan yang pertama muncul dalam benak saya adalah sebuah film romance yang menggemparkan dan fenomenal. Lalu pertama saya membahas cerita bersama teman-teman yang akan menjadi calon tim produksi film ini. Awalnya kita berpikiran untuk membuat parodi dari film fenomal Ayat-Ayat Cinta. Terlihat sangat menarik. Menuansakan kendal ala2 timur tengah. Kelihatannya menarik. Tetapi kemudian mulai muncul pemikiran bahwa film parodi tidak berkesan, akan lebih mengena bila memproduksi film dengan ide cerita yang orisinil. Tetapi ketakutan dalam diri saya bahwa film ini akan tidak menerima antusias dari orang lain begitu membayangi. Berangkat dari nuansa timur tengah yang begitu menarik di Ayat-Ayat Cinta tadi, saya memikirkan apa yang menarik dari film itu selain settingnya. Ya! Genre! Selain romansa, film Ayat-Ayat Cinta mengangkat genre religi islami sehingga bertambah fenomenal. Itu yang saya cari sejak awal!

Kemudian bersama salah satu teman saya, Early Safira, kami menyusun iden dan membentuk alur cerita yang akan dijadikan film ini. Cukup sebentar kemudian saya harus menyusunya menjadi sebuah naskah yang harus bisa difilmkan. Menyusun naskah yang harus tetap nice saat difilmkan memang tidak mudah. Berulang kali saya memutar lagu-lagu religi-romance ala2 padang pasir untuk proses moodbuilding selama membuat naskah. Setelah itu saya terpikirkan soal judul apa yang tepat? Tiba-tiba yang muncul pertama dalam otak saya adalah kata garis. Dan jadilah Garis-Garis Tuhan! a.k.a GGT.

Setelah naskah siap, saya mulai memikirkan soal pemeran yang akan mengisi peran dalam film ini. Dari tokoh utama Rudi, saya langsung mejatuhkan peran ini kepada Garindra Yogiswara. Seorang yang juga tidak jauh dari dunia seni. Selanjutnya tokoh Anna yang begitu salihah, muslimah dan kalem. Ada beberapa nama yang muncul dalam pikiran saya sebenarnya. Namun satu yang paling saya yakini adalah Malyda Savira. Walaupun dalam kehidupan nyata kepribadiannya sangat berbeda dengan Anna yang kalem dan pendiam, tapi saya yakin dia bisa mampu menjadi sosok Anna yang tepat.

Selain dua tokoh utama ada beberapa tokoh yang juga menjadi unsur penting dalam film ini. Varissa seorang chirstiani yang langsung peran ini saya berikan kepada Lia Wahyu. Serta gadis muslim pendiam dan pintar yang juga menjadi pembangun konflik dalam film ini, Lani, yaitu Adinda Kurnia yang sebenarnya juga terlintas dalam pikiran saya sebagai peran Anna.

Naskah yang sudah terbentuk saya kirim ke email para cast utama pada H-1 shoot hari pertama. Benar2 tindakan yang tidak wajar. Selain keempat pemeran penting tersebut, ada banyak cameo yang diperlukan dalam film ini seperti Teman-teman sekolah Anna dan Lani serta teman kos Rudi. Dalam hal durasi memang mereka hanya terlihat sepintas. Namun segalanya harus tetap dimaksimalkan karena bagian kecil yang kurang akan mengganggu secara hasil keseluruhan.