Selamat menjelang tengah malam:)
Sebelum mulai mereview film2 nasional, saya akan berbagi sedikit pengalaman. Yang pasti pengalaman ini sangat kecil dan tidak ada artinya bila diartikan sebagai arti dari "pengalaman" secara harfiah yang dikenal masyarakat. Hehehe. Saya akan bercerita mengenai pengalaman dalam pembuatan Film Pendek Garis-Garis Tuhan (GGT) pada tahun 2014 yang memakan waktu produksi sangat singkat dan terbatas. Namun Alhamdulillah, berhasil membawa predikat Film Terbaik pada FFS (Festival Film Smanik 2014).
FFS adalah lomba tahunan sekolah yang mempertandingkan film pendek karya tiap kelas. Meskipun berlingkup tingkat sekolah, tapi jangan salah sangka, film-film yang diproduksi sangat luar biasa semuanya. Film-film yang memiliki daya tarik menurut panitia akan ditayangkan dalam bioskop mini Cinemanik (Cinema of Smanik). Lalu di akhir FFS, akan diadakan penganugerahan kepada Film-Film tersebut. Untuk FFS 2014, ada kategori Film Terbaik, Pesan Cerita Terbaik, dan kategori khusus Unsur Pendidikan Terbaik.
Saat itu, juklak lomba film dibagikan dan saya benar2 excited. Bayangan yang pertama muncul dalam benak saya adalah sebuah film romance yang menggemparkan dan fenomenal. Lalu pertama saya membahas cerita bersama teman-teman yang akan menjadi calon tim produksi film ini. Awalnya kita berpikiran untuk membuat parodi dari film fenomal Ayat-Ayat Cinta. Terlihat sangat menarik. Menuansakan kendal ala2 timur tengah. Kelihatannya menarik. Tetapi kemudian mulai muncul pemikiran bahwa film parodi tidak berkesan, akan lebih mengena bila memproduksi film dengan ide cerita yang orisinil. Tetapi ketakutan dalam diri saya bahwa film ini akan tidak menerima antusias dari orang lain begitu membayangi. Berangkat dari nuansa timur tengah yang begitu menarik di Ayat-Ayat Cinta tadi, saya memikirkan apa yang menarik dari film itu selain settingnya. Ya! Genre! Selain romansa, film Ayat-Ayat Cinta mengangkat genre religi islami sehingga bertambah fenomenal. Itu yang saya cari sejak awal!
Kemudian bersama salah satu teman saya, Early Safira, kami menyusun iden dan membentuk alur cerita yang akan dijadikan film ini. Cukup sebentar kemudian saya harus menyusunya menjadi sebuah naskah yang harus bisa difilmkan. Menyusun naskah yang harus tetap nice saat difilmkan memang tidak mudah. Berulang kali saya memutar lagu-lagu religi-romance ala2 padang pasir untuk proses moodbuilding selama membuat naskah. Setelah itu saya terpikirkan soal judul apa yang tepat? Tiba-tiba yang muncul pertama dalam otak saya adalah kata garis. Dan jadilah Garis-Garis Tuhan! a.k.a GGT.
Setelah naskah siap, saya mulai memikirkan soal pemeran yang akan mengisi peran dalam film ini. Dari tokoh utama Rudi, saya langsung mejatuhkan peran ini kepada Garindra Yogiswara. Seorang yang juga tidak jauh dari dunia seni. Selanjutnya tokoh Anna yang begitu salihah, muslimah dan kalem. Ada beberapa nama yang muncul dalam pikiran saya sebenarnya. Namun satu yang paling saya yakini adalah Malyda Savira. Walaupun dalam kehidupan nyata kepribadiannya sangat berbeda dengan Anna yang kalem dan pendiam, tapi saya yakin dia bisa mampu menjadi sosok Anna yang tepat.
Selain dua tokoh utama ada beberapa tokoh yang juga menjadi unsur penting dalam film ini. Varissa seorang chirstiani yang langsung peran ini saya berikan kepada Lia Wahyu. Serta gadis muslim pendiam dan pintar yang juga menjadi pembangun konflik dalam film ini, Lani, yaitu Adinda Kurnia yang sebenarnya juga terlintas dalam pikiran saya sebagai peran Anna.
Naskah yang sudah terbentuk saya kirim ke email para cast utama pada H-1 shoot hari pertama. Benar2 tindakan yang tidak wajar. Selain keempat pemeran penting tersebut, ada banyak cameo yang diperlukan dalam film ini seperti Teman-teman sekolah Anna dan Lani serta teman kos Rudi. Dalam hal durasi memang mereka hanya terlihat sepintas. Namun segalanya harus tetap dimaksimalkan karena bagian kecil yang kurang akan mengganggu secara hasil keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar